Situs informasi Astronomi, Menyajikan fenomena terkini Astronomi, lokal, Nasional dan Dunia.

Selasa, 03 September 2019

Pengaruh Curah Hujan terhadap Keberhasilan Observasi Hilal


Keberhasilan pelaksanaan rukyatul hilal dipengaruhi oleh beberapa faktor. Faktor-faktor tersebut dapat dibagi menjadi dua, yaitu faktor internal dan eksternal. Factor internal yang penulis maksudkan adalah faktor yang berasal dari hilal atau dari bulan, sedangkan faktor eksternal adalah faktor lokasi rukyat dan keadaan perukyat.

a.       Faktor Internal
Faktor internal merupakan faktor yang berhubungan dengan diri obyek pengamatan bukan merupakan faktor dari luar yaitu meliputi keadaan benda langit yang menjadi obyek pengamatan baik itu dari segi ketinggian, beda azimuth dengan Matahari, kemiringan, kecerlangan dll.

b.      Faktor Ekternal
Ada beberapa factor eksternal yang mempengaruhi keberhasilan rukyat, seperti factor perukyat, alat, dan factor lokasi. Sedangkan faktor eksternal yang penulis menjadi titik fokus pembahasan ini adalah faktor yang terkait dengan lokasi rukyat, dimana tempat yang baik untuk melakukan pengamatan adalah yang memenuhi kriteria parameter kelayakan tempat rukyatul hilal. Ada parameter primer dan parameter sekunder. Parameter primer adalah tolak ukur kelayakan tempat rukyat yang berpengaruh langsung terhadap hasil rukyatul hilal, seperti kondisi geografis, kondisi atmosfer dan cuaca, serta kondisi ufuk yang bisa dilihat dari tempat pengamatan. Parameter sekunder adalah parameter tambahan untuk kelayakan tempat rukyatul hilal dari segi aksesbilitas dan fasilitas.
Lokasi rukyat merupakan salah satu aspek yang harus diperhatikan dalam melakukan observasi hilal. Hal ini perlu dilakukan karena hilal hanya dapat dilihat dengan memilih lokasi yang tepat. Lokasi yang seperti ini adalah lokasi-lokasi yang memenuhi beberapa kriteria, seperti luas pandangan terhadap ufuk atau keadaan horizon lokasi, tinggi tempat, dan mudah untuk dijangkau.  Tempat yang baik adalah tempat yang memungkinkan pengamat untuk mengobservasi di sekitar tempat terbenamnya Matahari. Pandangan pada arah itu sebaiknya tidak terganggu oleh objek alami maupun buatan, sehingga horizon akan terlihat lurus pada daerah yang mempunyai azimuth 240° sampai 300°. Hal ini berarti pandangan pengamat harus bebas dari penghalang fisik apapun, baik alami maupun buatan sepanjang 30° ke selatan dan 30° ke utara.[1]
Observatorium Lhoknga Aceh merupakan salah satu lokasi yang ditunjuk oleh pemerintah sebagai tempat melaporkan hasil rukyat. Observatorium Lhoknga berdiri setelah berdirinya Badan Hisab dan Rukyat di Provinsi Aceh sesuai dengan SK Gubernur Tahun 2005. Pada saat itu sudah terdapat sebuah sebuah bangunan sederhana di Lokasi Pantai Cemara Lhoknga sebagai tempat rukyatul hilal awal Ramadan, Syawal dan Zulhijjah yang dimiliki oleh Kementerian Agama sebagai tempat rukyatul hilal. Kemudian pada tahun 2006 dengan bantuan Badan Rehabilitasi dan Rekonstruksi Aceh didirikanlah sebuah bangunan permanen untuk pusat Rukyatul Hilal di provinsi Aceh, pembangunan ini selesai pada tahun 2007.  Secara astronomi, observatorium ini terletak pada 50 27’ 59, 85” LU dan 950 14’ 31,87” BT, dengan ketinggian tempat 8 m, dan berjarak 15 m dari laut.

1.      Kondisi alamiah Observatorium Lhoknga aceh
a.       Horizon
Untuk horizon atau ufuk, observatorium Lhoknga mempunyai pandangan terhadap ufuk yang luas yaitu mencapai 650, melihat dari sisi luasan pandangan terhadap ufuk, maka lokasi ini sangat bagus untuk dijadikan lokasi rukyat hilal baik itu pada saat deklinasi Matahari rendah atau bahkan pada saat Matahari berdeklinasi tinggi. Namun, adanya awan di sekitar ufuk menjadi kendala dalam melakukan rukyat di observatorium ini.

b.      Keadaan lingkungan

  c.       Data keberhasilan rukyat
              Tabel.1.9. Tabel data keberhasilan rukyat observatorium Lhoknga[2]
Lokasi
Tahun
Awal bulan
Tinggi Hilal
Keterangan
Faktor







   Lhoknga Aceh

1434 H
Ramadhan
Syawwal
Zulhijjah
-10 18’24.88”
40 35’ 31.88”
30 52’ 31.36”
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Negatif
Mendung
Mendung

1435 H
Ramadhan
Syawwal
Zulhijjah
20 6’ 57.6”
30 32’ 30.34”
00 56’ 7.92”
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Mendung
Mendung
Terlalu Rendah

1436 H
Ramadhan
Syawwal
Zulhijjah
30 00’ 20.79”
10 5’ 3.86”
50 41’ 31.7”
Terlihat
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Cerah
Mendung
Mendung

1437 H
Ramadhan
Syawwal
Zulhijjah
40 9’ 50.1”
-10 56’ 21.52”
20 38’ 25.31”
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Mendung
Negatif
Mendung

1438 H
Ramadhan
Syawwal
Zulhijjah
00 9’ 48.43”
40 55’ 41.82”
20 52’ 33.7”
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Terlalu Rendah
Mendung
Mendung

1439 H
Ramadhan
Syawwal
Zulhijjah
00 7’ 18.57”
40 50’ 32.97”
00 35’ 14.79”
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Tidak Terlihat
Terlalu Rendah
Mendung
Terlalu Rendah
Tabel. 1.9. Menggambarkan bahwa dari lima tahun pengamatan hilal yang dilakukan pada observatorium Lhoknga Aceh, hanya sekali berhasil melihat hilal yakni pada tahun 1436 H dengan ketinggian hilal 30 00’ 20.79”. Sedangkan yang lainnya belum berhasil merukyat hilal, padahal ketinggian hilal sudah sangat ideal untuk bias dirukyat.

2.      Curah hujan
Tabel.1.8. Tabel Data Curah Hujan Aceh Besar dan sekitarnya[3]
Thn
Jan
Feb
Mar
Apr
Mei
Jun
Jul
Agust
Sep
Okt
Nop
Des
2012
151
69
220
136
72
87
35
58
99
115
262
238
2013
232
170
128
99
89
27
6
146
85
85
188
327
2014
135
42
128
223
202
141
107
82
102
127
327
258
2015
243
98
235
207
78
17
79
80
125
118
195
213
2016
267
95
150
155
145
20
59
51
86
146
381
199
2017
360
173
187
170
259
142
65
38
188
82
190
297
2018
77
71
65
170
168
80
29
60
171
296
182
286

Berdasarkan data curah hujan rata – rata bulanan tahun 2012 – 2018 dari Stasiun Klimatologi Indrapuri Aceh diperoleh bahwa curah hujan rata-rata bulanan yang paling tinggi adalah pada bulan November tahun 2012 dengan ketinggian 381 mm, curah hujan tersebut masuk dalam kriteria tinggi. Sedangkan curah hujan rata-rata bulanan yang paling rendah adalah 6 mm yaitu pada bulan Juli 2013. Adapun nilai rata – rata curah hujan bulanan pada tahun 2012 sebesar 129 mm, pada tahun ini curah hujan masuk kriteria menengah. Pada tahun 2013 rata – rata curah hujan bulanannya mencapai 132 mm dan nilai curah hujan tersebut masuk kriteria menengah. Selanjutnya pada tahun 2014 masih termasuk kepada kriteria curah hujan menengah yaitu sebesar 156 mm. Pada tahun berikutnya yaitu pada tahun 2015, rata-rata curah hujannya adalah 141 mm, demikian pula dengan tahun 2016 dan 2017 rata – rata curah hujan bulanan juga tergolong kepada curah hujan menengah, dengan rata-rata curah hujan bulanan berturut-turut yaitu 146 mm dan 179 mm. Sedangkan pada tahun tahun 2018, rata – rata curah hujan mencapai 119 mm. Nilai rata – rata curah hujan pada tahun ini paling rendah namun masih tetap masuk dalam kriteria menengah. Jika dirata – ratakan curah dari tahun curah hujan dari tahun 2012 – 2018, maka nilai rata-ratanya adalah 303 mm yaitu masuk dalam kriteria curah hujan tinggi.
Suatu lokasi yang memiliki curah hujan yang tinggi maka ini akan berimbas pada rendahnya tingkat keberhasilan rukyat hilal. Keadaan posisi lintang juga memberi pengaruh terhadap curah hujan, dimana di daerah kira-kira 100 LU-100 LS, hujan berlimpah-limpah sepanjang tahun atau hampir semua musim. Dalam zona ini jelas relatif tidak terdapat zona musim kering yang tajam. Jika melihat dari posisi lintang, iklim dapat dikelompokkan kepada tiga zona, yaitu: zona “a” (zona iklim tropis), zona “b” (zona iklim sedang), dan zona “c” (zona iklim kutub). Iklim zona “a” merupakan iklim tropis dengan batas lintang terluarnya lintang 23.50 LU dan 23.50 LS. Zona ini terbagi menjadi:[4]
a)      Zona a1, iklim khatulistiwa basah dengan batas lintang terluarnya 100 LU dan 100 LS. Zona ini memiliki ciri-ciri:
1)      Mempunyai pertemuan dua massa yang berbeda suhunya yaitu wilayah konvergensi antar tropikal,
2)      Memiliki suhu udara adalah panas,
3)      Mempunyai curah hujan yang lebat, curah hujan hampir merata sepanjang tahun.
b)      Zona a2, merupakan iklim musim angin pasat litoral dengan batas lintang terluarnya 50 LU - 250 LU, dan 50 LS - 250 LS. Zona ini memiliki ciri-ciri:
1)     Angin pasat membawa massa udara maritim lembab,
2)    Mempunyai jenis hujan orografis, sebagai efek dari pegunungan dan bukit-bukit sepanjang pantai,
3)     Suhu udara cenderung tinggi.
c)      Zona a3, iklim tropika basah kering dengan batas lintang terluarnya 50 LU - 200 LU, dan 50 LS - 200 LS, namun untuk Asia zona ini berada pada 100 LU - 300 LU
1)      Musim berubah karena dominan dari tropika maritime,
2)      Mempunyai satu musim basah dan musim kering,
3)      Suhu menjadi sejuk bersamaan dengan musim kering, namun sebaliknya ketika musim basah dating.[5]
Sebagian besar kepulauan Indonesia termasuk termasuk daerah iklim bio basah. Namun ada beberapa daerah yang mempunyai gejala musim kering nyata. Pada umumnya hal ini terjadi di kepulauan NTT yang terletak antara 60 LS - 110 LS, hal ini dipengaruhi oleh adanya peralihan angin Monsun Barat dan tenggara. Sedangkan untuk daerah-daerah yang paling basah berturut-turut ialah Kalimantan, Sumatera, Maluku, Irian Jaya dan Sulawesi, karena kepulauan ini berdekatan dengan Ekuator. Pulau Jawa sangat varian, bagian Barat memiliki kebasahan yang cukup, tetapi semakin ke Timur semakin kering, dan cenderung mempunyai musim kering yang lebih panjang dibandingkan dengan bagian sebelah Barat.[6]


Observatorium Lhoknga (50 27’ 59, 85” LU) merupakan salah satu wilayah dari provinsi Aceh, terletak di bagian ujung pulau Sumatera yang merupakan pulau kedua terbanyak yang mempunyai curah hujan yang lebih tinggi setelah Kalimantan. Sebagaimana yang terlihat pada gambar berikut.

Terlihat bahwa hujan merata terjadi pada lokasi ini pada setiap bulannya, dengan curah hujan mencapai 380 mm. Tingginya Curah hujan lokasi ini adalah karena letaknya sangat dekat ekuator, dimana semakin dekat dengan ekuator maka curah hujannya akan semakin tinggi, hujan ini lebih dikenal dengan hujan Zenital atau hujan Ekuatorial.



[1] Ibid.
[2] Hasil wawancara penulis dengan Alfirdaus Putra selaku ketua observatorium Lhoknga Aceh pada 6 April 2018.
[3] Hasil observasi dan dokumentasi penulis di BMKG Indrapuri Aceh besar pada tanggal 15 Mei 2018.
[4] Rafi’I, Suryatna, Meteorology dan Klimatologi, (Bandung: Angkasa, 1995), hlm. 142.

[5] Ibid., hlm. 180.
[6] Ibid., hlm. 243.

[7] Hasil observasi dan dokumentasi penulis di BMKG Indrapuri Aceh besar pada tanggal 15 Mei 2018.  

Share:

Cari Blog Ini

Diberdayakan oleh Blogger.

Blog Archive

You can replace this text by going to "Layout" and then "Page Elements" section. Edit " About "

About Me